Pentingnya manajemen keuangan untuk menjaga likuiditas bisnis selama pandemi

Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila melaporkan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Dampak negatif pandemi Covid-19 global lebih serius daripada situasi ekonomi yang semula diperkirakan di dunia.

Dana Moneter Internasional merefleksikan hal ini dalam laporan Outlook Ekonomi Dunia yang dirilis pada bulan Juni, yang memperkirakan pertumbuhan negatif global sebesar 4,9% pada tahun 2020.

Grant Thornton Indonesia dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yakin bahwa pengelolaan keuangan / kas dapat menjaga likuiditas bisnis selama pandemi Covid-19.

Baca: Mantan Menteri Keuangan: Masalah Bank Dunia saat ini bukanlah likuiditas, melainkan credit crunch — karena dengan menjaga likuiditas, perusahaan memiliki keunggulan dalam memilih model pembiayaan termasuk penerbitan obligasi di masa depan. Atau Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan pencatatan.

Grant Hanny Prasetyo, partner dan head of assurance Thornton Indonesia, mengatakan perusahaan harus mempertimbangkan dan mempersiapkan sebelum menerbitkan obligasi atau listing. Mulai dari laporan keuangan, transaksi yang kompleks, tenggat waktu, strategi, rencana dan prakiraan bisnis, serta uji tuntas dan evaluasi, ”kata Hanni dalam keterangan tertulisnya, Senin (31 Agustus 2020). Ikuti rencana kompensasi Bank Indonesia Teruskan-Grant Thornton Indonesia telah merilis roulette fleksibilitas bisnis yang menyebutkan pentingnya menjaga komunikasi yang baik dengan karyawan dan pemangku kepentingan.Ini merupakan salah satu strategi kelangsungan hidup perusahaan yang memiliki opsi pembiayaan atau investasi. -Itu juga Termasuk pertanyaan penilaian mandiri untuk memungkinkan perusahaan membangun kemampuan peramalan dan pemantauan arus kasnya.Saham dan obligasi masih menjadi bentuk investasi yang disukai investor-jumlah total registrasi BEI adalah 699 perusahaan milik Indonesia, ns dan 121 Perusahaan wajib.

“Dari sudut pandang investor, setidaknya ada tiga keuntungan utama dari penerbitan obligasi, yaitu penerbitan obligasi secara reguler. Hanni menambahkan:” Pendapatan ini meliputi pendapatan tetap, dan keuntungan dari penjualan obligasi (capital gain) ) Dan risikonya lebih rendah dibanding saham. “

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian PT Bursa Efek di Indonesia, mengatakan dalam webinar bersama Grant Thornton Indonesia ini tercatat pada Agustus 2020 Pada tanggal 12, 35 perusahaan baru go public.

“Perusahaan dan institusi Indonesia masih sangat diminati pada semester II 2020. Hal ini tercermin dari jumlah pipeline, yakni 14 perusahaan dalam pipeline, dibandingkan tahun lalu 12 perusahaan,” ujarnya-.— -Ini juga sebagai bentuk kepercayaan bagi pemilik dan manajer perusahaan, menjadikan Bursa Efek sebagai rumah pertumbuhan bagi perkembangan bisnis perusahaan mereka.

Go Public tidak hanya menjadi sumber pendanaan yang menjanjikan untuk perkembangan perusahaan, tetapi juga dapat meningkatkan citra perusahaan, sehingga lebih profesional, transparan dan bertanggung jawab.

Leave a Comment

download s128 apk_s128 apk_adu ayam saigon