Kementerian Pertanian menjelaskan minimnya pupuk bersubsidi di pasaran

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Petani di sejumlah daerah mengeluhkan minimnya pupuk bersubsidi (jarang ada pupuk bersubsidi).

Tidak hanya itu, karena banyaknya petani yang berlomba-lomba membeli pupuk, maka pupuk yang tidak bersubsidi semakin sulit ditemukan di pasaran. .

Sarwo Edhy, Direktur Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), mengungkapkan, minimnya subsidi pupuk disebabkan oleh berkurangnya anggaran subsidi pupuk dibandingkan tahun sebelumnya. .

Baca: Petani mengeluhkan kelangkaan pupuk di pasaran. Pupuk

baca: petani yang kekurangan pupuk kimia bersubsidi di pasaran teriak

baca: pupuk kimia bersubsidi langka, dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berjanji akan menyelesaikannya dalam waktu 1 minggu

“Pasalnya tahun 2019 kita Total produksi (diperbolehkan) 8,8 juta ton. Makanya, pada 2020 kita baru alokasikan 7,9 juta ton. Ada perbedaan besar, bukan? ”Kata Sawo kepada Kompas.com, Rabu (2020/9/23). -Menurut Sarwo, Kementerian Pertanian mengusulkan alokasi 9,1 juta ton pupuk pada 2020. Namun usulan tersebut belum terpenuhi, sehingga anggaran pembelian pupuk tahun ini hanya cukup untuk mencukupi 7,9 juta ton perusahaan pupuk milik negara PT Pupuk Indonesia (Persero).

Dengan mengajukan anggaran untuk pembelian pupuk kimia, Kementerian Pertanian terus memberikan subsidi terhadap rata-rata penggunaan pupuk kimia dalam lima tahun terakhir.

“Kami merekomendasikan penggunaan pupuk rata-rata 9,1 juta ton. Ini rata-rata selama 5 tahun terakhir,” kata Sarwo.

Menanggapi keluhan dari petani di banyak daerah yang sulit mendapatkan pupuk bersubsidi, Kementerian Pertanian saat ini sedang Memberikan anggaran pupuk subsidi kepada Republik Demokratik Rakyat dan Kementerian Keuangan. – “Kelangkaan pupuk bersubsidi ini bisa kita atasi dengan memberikan tambahan 1 juta ton pupuk bersubsidi senilai Rp 3,1 triliun,” jelas Sarwo.

Leave a Comment

download s128 apk_s128 apk_adu ayam saigon