MPR RI dan Universitas Terbuka menjalin nota kesepahaman tentang empat pilar sosialisasi

TRIBUNNEWS.COM-Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, Bambang Soesatyo menegaskan, tantangan terbesar bangsa Indonesia tidak sebatas membangun konektivitas antar daerah melalui pembangunan infrastruktur fisik. Namun, hal itu juga memperkuat konektivitas dalam ikatan negara. MPR RI sedang mencari mitra penting dalam sumber daya manusia (SDM), tidak hanya dengan kearifan akademik, tetapi juga berwawasan kebangsaan. Atas dasar itulah, MPR RI dan Universitas Terbuka menandatangani nota kesepahaman untuk mensosialisasikan empat pilar MPR RI. Perkembangan visi nasional tidaklah wajar. Sebaliknya, itu adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan implantasi, pemeliharaan, dan perawatan agar dapat terus tumbuh dan berkembang. Kata Bamsoet usai penandatanganan nota kesepahaman dan jejaring virtual pada keempat memorandum tersebut. Pada hari Jumat, Ruang Sidang Kepresidenan RI MPR Jakarta menggelar acara penting Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia di puncak lingkar sivitas akademika Universitas Terbuka.

Ada juga perguruan tinggi Jajaran kepala sekolah membuka tas sekolah, antara lain Kepala Sekolah Profesor Ojay Darojat, Wakil Ketua IV Dr. Liestyodono Bawono Irianto, Dekan Fakultas Hukum, Sosial dan Politik, Dr. Sofjan Aripin, Dosen Senior Universitas Terbuka ‘Sjaiful Mifdar’, dan Guru Besar Pusat Sains Dr. Maximus Gorky Sembiring

Mantan Ketua DPR RI ini menilai keberadaan perguruan tinggi terbuka sangat penting untuk meningkatkan taraf pengajaran, menyediakan wadah pembelajaran jarak jauh dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi bagi masyarakat di berbagai daerah., Menandakan ada 268,6 juta orang di Indonesia. 171,9 juta orang sudah mengakses Internet. Mempromosikan penerapan sistem pendidikan jarak jauh dan sosialisasi online empat pilar Musyawarah Rakyat Indonesia (MPR).

“Kita tidak ingin rendahnya kualitas sumber daya manusia yang terjadi terakhir kali Berbagai masalah terkait. Tahun ini akan diulang setiap tahun untuk tahun berikutnya.Internasional Student Assessment (PISA) 2019 menempatkan kemampuan membaca, matematika dan sains siswa Indonesia di urutan ke-72 dari 77 negara. Ada 7 juta lulusan SMA yang dipaksa bekerja, Bamsoet. kata forte.

Dari “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terlihat bahwa pada tahun 2019 sebagian besar kontribusinya terhadap PDRB (80,32%) masih berasal dari wilayah barat yaitu Jawa (59%) dan Sumatera (Sumatera). ) Sekitar 21,3%.

“Hal ini menunjukkan bahwa selain membangun infrastruktur fisik, pemerintah juga harus mendorong kebijakan pendukung lainnya untuk melaksanakan land reform dan menciptakan lapangan kerja melalui usaha kecil dan menengah. Dalam membentuk jiwa kewirausahaan mahasiswa, kampus tidak bisa ditinggalkan. Dengan cara ini, jika kelak mereka lulus, mereka tidak hanya akan menjadi tenaga kerja yang dapat diandalkan, tetapi mereka juga akan dapat menemukan pekerjaan.

Leave a Comment

download s128 apk_s128 apk_adu ayam saigon