Musyawarah Nasional Kelompok Alumni GMNI: Perjuangan melawan ideologi transnasional harus dilakukan dengan kerja konkrit

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Dr. Ahmad Basarah, Ketua Umum Ikatan Alumni GMNI Partai Progresif Demokrasi Indonesia (2015-2020) dan Wakil Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia Memerangi Indonesia membutuhkan kerja konkrit di semua bidang politik, ekonomi, masyarakat dan budaya.

Jika nasionalisme dan demokrasi yang saat ini dianut oleh rakyat Indonesia belum membuahkan hasil nyata yang membuat rakyat lebih sejahtera apalagi membuat mereka kaya. Syukurlah, masyarakat khawatir masyarakat akan beralih ke ideologi lain sebagai alternatif, seperti ideologi transnasional dengan konsep negara khilafah. -Ketika negeri ini menghadapi pandemi Covid-19, di desa gotong royong yang sulit, masyarakat akan menikmati manfaat gotong royong yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Inilah yang saya sebut sebagai bentuk pekerjaan yang spesifik. Jika banyak yang merasakan ini, maka mereka tidak akan tertarik lagi dengan ideologi lain, termasuk transnasionalisme yang dipimpin oleh pendukung nasional Khilafah, ” kata Ahmad Basarah dalam acara pembukaan dan pidato Musyawarah Kerja Nasional Ikatan Alumni GMNI. 2020, di Jakarta) .

Wakil Ketua BPIP, Direktur BPHN Kemenkumham Profesor Haryono, Hakim MK HR Profesor Benny Riyanto, Profesor Arief Hidayat, dan Dr. Bayu Dwi Anggono, Direktur Pusat Penelitian Pancasila dan Konstitusi Universitas Jambert.

Menurut Ahmad Basarah (Ahmad Basarah), jika bangsa Indonesia pandai melestarikan memori sejarah negara, maka sebenarnya tidak ada alasan lain baginya untuk menghindari Pancasila sebagai ideologi bangsa. Menurut catatan sejarah negara, nilai Pancasila sebenarnya dikembangkan dan berakar pada nenek moyang bangsa Indonesia sebelum Pancasila lahir pada 1 Juni 1945.

‘ Oleh karena itu, faktor penting yang harus diperhatikan dan dilindungi oleh suatu negara untuk melindungi eksistensi bangsanya, dan perlindungan sejarah bangsa dari kehancuran adalah untuk melindungi bangsanya. Ambiguitas suatu negara dan sejarah suatu negara akan menghancurkan negara dan negara itu sendiri, ” ujar Sekjen GMNI antara tahun 1996 dan 1999. -Dengan mengirim pasukan untuk berperang, itu cukup untuk menghapus pengetahuan mulia mereka tentang sejarah leluhur mereka. Dia berkata: “Jika suatu negara melupakan sejarah mendirikan negaranya sendiri, itu tidak akan lama. Negara ini dan negara ini akan dihancurkan.” Dan menjajah sebuah negara. ; Pertama, dengan menutupi sejarah negara itu sendiri, kedua, dengan menghancurkan bukti sejarah negara tersebut, dan kedua, dengan menyatakan bahwa leluhurnya bodoh dan primitif, memutuskan hubungan dengan leluhurnya. Nasionalis aktif di GMNI. Mereka tidak boleh berhenti mengkaji sejarah bangsa itu sendiri sebagai wujud menjaga kewaspadaan negara terhadap keutuhan republik monoteistik Indonesia tercinta ini, ”ujar Ahmad Basarah. Bani Profesor HR Benny Riyanto menyampaikan bahwa darah Ahmad Basarah harus tetap menjaga memori kolektif nasional tentang sejarah Pancasila. Ia mengatakan karya besar ini sangat penting karena Dalam suasana politik saat ini, sulit untuk mengajukan undang-undang yang memuat Pancasila untuk diterima, apalagi jika dalam 20 hingga 30 tahun mendatang generasi milenial saat ini masih akan menjadi PNS dan pengambil keputusan di negeri ini.

“Generasi milenial tentunya jauh dari lahirnya Pancasila. Kalau mereka tidak mengingat sejarah negeri ini, sejarah Pancasila, kemungkinan besar Pancasila menjadi sesuatu dari masa lalu, ” kata Benny.Saudaraku, gunakan media sosial sebagai gudang baru. Pada tahun 2015-2018, Presiden Mahkamah Konstitusi mengumumkan bahwa kita harus menjadi influencer dalam menyebarkan ajaran Soekarno agar ajaran penerbit di negeri ini menarik bagi masyarakat lintas generasi. Tema Rakernas -PA- GMNI adalah Posisi dimana alumni GMNI menghadapi tantangan Pancasila di posisi tengah. Ancaman ideologi transnasional. Beberapa peserta dari dalam dan luar negeri, 34 pengurus daerah dari Ikatan Alumni GMNI se-Indonesia, dan lainnya hadir secara langsung. Panitia Pertimbangan Presiden juga Gubernur Jawa Timur. Pak Soekarwo, Senior PNI Waluyo Bapak Martosugito dan pengusaha nasional Moerdaya Po. (*)

Leave a Comment

download s128 apk_s128 apk_adu ayam saigon